E100.7 MAJAFM
INTERVIEW
Jumat, 03/03/2017 13:16 WIB
Rajutan Ibu-ibu Asal Trawas Mojokerto Ini Tembus Hingga Pasar Bali
Berharap rajutan tas dan dompet ini bisa jadi ikon desa.
MAJA mojokerto | Produk unggulan yang jadi ikon desa, memang sudah banyak bermunculan di Mojokerto. Tak terkecuali ibu-ibu yang ada di wilayah Trawas, tepatnya di Desa Ketapanrame. Ibu – ibu yang biasanya hanya melakukan aktifitas sebagai ibu rumah tangga, kini berbondong bondong membuat rajutan dari benang yang nilainya mencapai ratusan ribu rupiah.

Anis Sholihah (27), salah satu Pembuat kerajinan Rajutan Di Desa Ketapang rame mengatakan Dirinya sudah hampir 1 tahun lebih belajar membuat kerajinan Rajutan. “Awalnya, kita dapat pelatihan tentang kerajinan, kemudian mengembangkannya dengan melihat tutorial di media Sosial You tube,” tuturnya. Kreatifitas ibu-ibu ini pun memiliki nilai jual tinggi, dan mampu menembus pasar luar pulau, seperti Semarang dan Bali.

Kata Anisa kerajinan yang sudah di gelutinya hampir 1 tahun lebih ini sangat bermacam macam. Mulai dari rajutan tas, dompet, topi, hingga baju dan Sepatu Bayi. ”Harganya bervariasi, mulai dari Rp 70 ribu sampai Rp 500 ribu, tergantung Motif dan tingkat kerumitan pembuatannya.”

Lebih jauh Anisa juga mengatakan, untuk membuat 1 tas yang berukuran 30 sampai 35cm, dirinya hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari. Sedangkan bahan yang di gunakan adalah benang nilon serta benang jenis polyester. Saat ini, hampir 40 persen ibu-ibu di desa setempat membuat kerajinan rajutan. Usai mengantar anaknya ke sekolah, para ibu rumah tangga ini biasanya memanfaatkan waktu luangnya untuk merajut.

Anisa dan para pengrajin di desa Ketapanrame ini berharap, nantinya kerajinan rajutan yang ada di wilayah Trawas ini bisa di jadikan ikon desa dan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi ibu rumah tangga.(fad/fan)